Donor Darah

Sejak sekolah di SMA Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk mendonorkan darah. Pertama rasanya takut. Takut pingsan, takut jadi sakit, takut jarum yang besar, takut terinfeksi, dan… takut ditolak. Hehe.. Bapak dan kakak saya pendonor reguler di gereja. Saya pikir kalau mereka bisa, kenapa saya tidak.

Kebetulan sempat ada acara mendonorkan darah di salah satu lembaga bahasa di dekat rumah. Saya memberanikan diri mendaftar walaupun sempat diejek oleh (mantan sekarang, waktu itu) pacar saya karena menurut dia itu berisiko. Ntah risiko apa yang dia maksud. Ternyata, yang saya takutkan terjadi: saya ditolak karena berat badan di bawah 45 kg. Cukup kecewa tetapi ini kesalahan saya yang kurang mencari informasi tentang persyaratannya. Lebih lengkap mengenai syarat donor darah ada di sini: Ayo Donor.

mitos donor darah

Empat tahun setelah itu, barulah saya siap mendonorkan darah melalui kantor. Technip secara reguler tiga bulan sekali mengundang PMI untuk mendonorkan darah. Antusiame karyawan memang sangat tinggi. Sebelum petugas datang pun, kita sudah antri mendaftar sampai ada yang ditolak karena kantong darah PMI tidak cukup.

Tahapan mendonorkan darah adalah kita mendaftarkan diri dulu ke petugas PMI dan mengisi data diri termasuk nomor KTP, alamat rumah, tinggi dan berat badan, riwayat sakit, riwayat operasi, riwayat opname, dan penyakit menurun dari keluarga. Setelah itu ada baris untuk tanda tangan persetujuan mendonorkan darah.

Jika kita belum pernah mendonorkan darah sebelumnya, kita akan diberi kartu pendonor. Untuk darah O positif seperti saya, warna kartunya merah muda. Setiap golongan darah akan diberikan warna yang berbeda. Saya sangat menencourage teman-teman yang mempunyai golongan darah AB ataupun resus negatif untuk mendaftarkan diri mengingat darahnya cukup langka di Indonesia.

Setelah mengisi data dan mengumpulkan ke petugas, kita dipanggil untuk dicek tekanan dan Hb darah oleh dokter. Ujung jari tengah kita diambil setetes darahnya untuk mengetahui secara pasti golongan darah, tekanan, dan Hbnya. Kalau tekanan darah terlalu tinggi atau terlalu rendah, kita tidak diperkenankan mendonorkan darah. Begitu pula dengan Hb darah. Nilai yang normal untuk wanita sekitar 12-16 gr/dL, untuk pria 14-18 gr/dL. Dokter yang mementukan apakah kita siap atau tidak mendonorkan darah.

Donor Darah

Beberapa kali saya mendonorkan darah selalu normal. Namun tidak sedikit juga teman-teman saya ditolak karena Hb dan tekanan darah. Kiat dari teman-teman wanita saya adalah tidur sebelum jam 10 malam di hari sebelum donor dan makan daging. Ini karena Hb wanita cenderung terlalu rendah setelah kelelahan bekerja. Sebaliknya, teman-teman laki-laki saya sering ditolak karena tekanan darah atau Hb terlalu tinggi.

Setelah diperbolehkan mendonor, kita tunggu sampai dipanggil petugas. Umumnya sudah disediakan kasur lipat untuk kita berbaring selama pengambilan darah. Pertama, petugas akan mengikat lengan atas kita dengan bantalan kain saat kita mengepalkan tangan kuat-kuat, kemudian memeriksa dan menyuntik bagian pembuluh darah disekitar lipatan lengan (bisa lengan kiri atau kanan). Jarumnya saya akui memang cukup besar, tapi untungnya saya bukan tipe yang takut disuntik. Setelah darah mengalir ke kantong darah, pelan-pelan kita lepaskan kepalan tangan. Otomatis, darah akan mengucur lebih deras. Seringkali, petugas menyuruh kita mengepal dan melepas tangan untuk memompa darahnya keluar. Bisa dibantu dengan mengepal busa mainan atau bola karet yang sudah disediakan petugas.

20150401_100628

Pengambilan darah tidak berlangsung lama, sekitar 10-15 menit. Perlu diingat, kita tidak boleh panik. Pernah suatu saat, teman sebelah saya panik sehingga darahnya berhenti mengucur ke kantong. Petugas sudah berusaha untuk menenangkan tetapi teman saya terlanjur ketakutan. Setelah beberapa saat, dibantu teman-teman yang lain, akhirnya darahnya kembali keluar. Darah yang tidak lagi mengalir ke kantong selama pendonoran darah menyebabkan kerugian bagi PMI mengingat kantong darah yang sudah terlanjur terisi tidak dapat digunakan lagi dan harus dibuang. Jadi sebaiknya kita tenang saja dan ikuti apa instruksi-instruksi petugas.

Setelah kantong darah penuh (untuk wanita biasanya 250 mL, pria 300 mL), jarum akan dilepas dan bekas jarumnya diplester. Sebaiknya, tangan kita angkat sedikit agar darah tidak banyak keluar dan posisi badan tetap baringan selama 3 menit. Tarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri kita. Setelah merasa kuat, barulah kita duduk kemudian berdiri. Hal ini dianjurkan untuk dilakukan agar kita tidak pingsan. Pernah teman bule saya pingsan setelah mendonorkan darah karena langsung berdiri setelah bekas jarumnya diplester. Padahal badannya bongsor. Hehe..

PMI akan memberikan snack dan susu untuk mengembalikan energi kita. Sebenarnya rasa lemas tidak segera terasa. Untuk saya, sekitar 3 jam setelah donor baru terasa sangaaat lapar dan lemas.

Manfaat donor darah yang saya rasakan selain kebahagiaan karena telah membantu orang lain adalah badan menjadi lebih segar dan ringan. Mungkin ini hanya state of mind, tetapi saya senang dan akan selalu mendonorkan darah saya.

Selamat mendonor!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s